Pembelajaran Kontekstual pada Mata Pelajaran Kimia

Ahmad Anas, S.Si
(Guru Kimia SMA Islam Sultan Fatah Wedung)

Adanya pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan dalam berbagai lini kehidupan, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Kebijakan pembela

jaran online atau daring merupakan pengaturan dan pembatasan yang dilaksanakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Menurut Arsyad (2011) media pembejaran online atau sering disebut dengan e-learning merupakan media penunjang pendidikan dan bukan sebagai media pengganti pendidikan. Prosesnya e-learning sebagai media distance learning menciptakan paradigma baru. Yakni peran guru yang lebih bersifat “fasilitator” dan siswa sebagai “peserta aktif” dalam proses belajar-mengajar.

Selama ini pelajaran kimia menjadi salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit di kalangan peserta didik. Hal ini diperparah dengan kondisi pandemi. Peserta didik yang duduk di kelas sepuluh sama sekali belum pernah mempelajri kimia di kelas tatap muka padahal mata pelajaran ini tergolong baru bagi peseta didik. Bisa dikatakan ilmu kimia merupakan ilmu yang baru dan asing bagi peserta didik kelas 10. Hal ini menjadikan permasalahan dan tantangan bagi guru untuk berfikir kreatif agar mampu membantu peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan mudah dan menyenangkan.

Salah satu pendekatan yang bisa dipakai adalah pendekatan kontekstual. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah sebuah proses pembelajaran yang bersifat menyeluruh atau holistik. Pada pembelajaran kontekstual, peserta didik dimotivasi sehingga mereka dapat memahami makna bahan pelajaran sesuai konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural).

Ada beberapa komponen utama dalam CTL, antara lain:

  1. konstruktivisme, proses membangun atau menyusun struktur kognitif peserta didik dari pengalaman
  2. inquiri, pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis
  3. bertanya, dipandang sebagai keingintahuan setiap individu dan membangkitkan motivasi belajar peserta didik
  4. masyarakat belajar, membantu siswa untuk saling membelajarkan, bertukar informasi dan bertukar pengalaman. Kerjasama saling memberi dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu permasalahan
  5. pemodelan, memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru peserta didik
  6. refleksi, melalui pengalaman belajar dengan mengurutkan kembali kejadian-kejadian pembelajaran yang telah dilalui peserta didik
  7. penilaian nyata, pengumpulan informasi tentang perkembangan belajar yang dilalui siswa.

Jika pengaplikasiannya dilakukan dengan tepat, maka ada beberapa tujuan pembelajaran kontekstual yang dapat dicapai, antara lain:

  1. menghadirkan problematika yang nyata ke dalam kelas
  2. peserta didik dapat termotivasi untuk belajar
  3. tidak hanya peserta didik, guru juga dapat menemukan hal baru
  4. terjadi sharing opini dan ide terkait fakta individu yang memliliki latar belakang yang berbeda
  5. mengaitkan teori dan praktek
  6. peserta didik dapat menyadari pentingnya materi yang dipelajari

Contoh penerapan CTL dalam mata pelajaran kimia adalah pada materi Redoks, peserta didik dapat mengetahui aplikasi reaksi redoks pada reaksi pembakaran, pengosongan aki (pemakaian aki), dan pengisian aki.

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan